Salam Berkat Rohmat Alloh Yang Maha Kuasa
Kepada Yth Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia Yang Dijiwai Manunggalnya keimanan dan kemanusiaan Kab Kediri. Bersama perwakilan tokoh lintas agama: dari Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu.
Yth. Ketua Situs Bung Karno dan hadir yang dimuliakan Alloh
Pertama Kami mengucap Syukur Kepada Alloh,Tuhan Yang Maha Esa. Atas Berkat Rohmat Alloh Yang Maha Kuasa, pada malam hari ini kita dapat berkumpul dalam rangka Santunan dan Doa bersama, sekaligus pagelaran tari dan wayang kulit memperingati Hari Kartini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa memberkati merohmati.
Ibu Bapak dan saudara semua yang kami mulyakan…..
Mengapakah kita harus mengadakan peringatan Hari Kartini? Apa dasarnya? Menurut hemat kami, Sebab mengadakan peringatan itu adalah perintah Tuhan Yang Maha Esa. Dan peringatan itu banyak mengandung hikmah.
Misal, di Islam ada ada peringatan Maulid Nabi dsb, di Kristen ada peringatan Isa Almasih, di Budha ada Waisak, Hindu ada Galungan, Konghucu ada Imlek. Dan peringatan hari Kartini untuk semuanya, semua bangsa Indonesia, yang beragama apa saja, wajib memperingati hari Kartini.
Ibu Bapak dan saudara semua yang kami mulyakan………
Kalau Hari Kartini tidak kita peringati, kita takut anak-anak kita nanti tidak ngerti kepada Kartini. Tanda-tanda itu sudah mulai tampak. Misalnya kalau ditanya siapa wanita idolamu Nak? .. Jodha Akbar, Marsa, Doremon, Berbie…Celaka…, bencana besar bila anak-anak sebagai generasi penerus bangsa tidak tau siapa Kartini.
Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah Putri seorang Bupati Jepara. Begitukah? Bukan itu yang kami maksud. Siapa Kartini itu? Sosok seperti apa…..kita fahami seperti apa Kartini itu. Ini jauh lebih penting dari pada sekedar menghafalkan angka-angka sejarah.
Umumnya karena setiap hari Kartini banyak mengadakan peringatan dengan memakai busana kebaya…anak-anak yang berfikir cekak lalu menafsirkan, Kartini itu ya kebaya…..Kartini itu pakian adat Jawa….. Bukan, bukan itu. Kebaya itu pakain Kartini, tapi bukan Kartini. Beda.
Ibu Bapak dan saudara semua yang kami mulyakan………
Tadi kita bersama-sama telah menyanyikan lagu “Ibu Kita Kartini” didalam lagu itulah kita bisa mengetahui Siapakah Kartini itu? seperti apakah Kartini itu.
Ibu kita Kartini, putri sejati (Kartini itu putri sejati, bukan kebaya, bukan jarik, bukan pakian adat) Putri Indonesia, harum namanya (Putri Indonesia yang harum namanya, bukan putri Indonesia yang terkenal, terkenal belum tentu harum)
Ibu kita Kartini, pendekar bangsa (pendekar, bukan pecundang) Pendekar kaumnya untuk merdeka (pembela, pejuang kaum perempuan untuk merdeka)
Wahai ibu kita Kartini putri yang mulia (Putri yang mulia) Sungguh besar cita-citanya
bagi Indonesia (mengapa disebut putri mulia, kerena punya cita-cita yang agung, yang besar, yang mulia).
Bait pertama lagu ini, berisi siapa sebenarnya Kartini. Yaitu seorang wanita yang sejati, seorang putri sejati, seorang wanita yang harum namanya.
Bait Kedua menerangkan ciri-ciri wanita sejati, ciri-ciri wanita yang harum namanya? Yaitu wanita pembela, wanita pejuang yang berjuang dan berkorban untuk orang lain.
Kemudian bait ketiga, menjelaskan bagaimana caranya untuk bisa menjadi wanita pejuang seperti Kartini. Bagaiman caranya? ada syarat mutlak yang harus dimiliki. Yaitu harus mempunyai cita-cita yang mulia, harus mempunyai cita-cita yang besar yang luhur.
Ibu Bapak dan saudara semua yang kami mulyakan………
Penting sekali memiliki anak yang mempunyai cita-cita luhur, cita-cita pejuang, yang mau memikirkan dan berkorban untuk orang lain. Tidak cukup kita memiliki anak-anak yang hanya memikirkan dirinya sendiri, nasibnya sendiri, kesenanganya sendiri.
Semua orang-besar di dunia ini, tidak ada yang hanya memikirkan dirinya sendiri, semua memiliki jiwa besar memikirkan orang lain. Nabi Muhammad, Isa Almasih, Sidarta Gautama, Krisna, Konghucu. Semua adalah pejuang-pejuang bagi orang lain, bagi umat manusia.
Coba kita bayangkan… seandainya para nenek moyang kita itu hanya memikirkan dirinya sendiri, hanya sibuk dengan urusanya sendiri, tidak memikirkan nasib rakyat dan bangsa Indonesia. Mana mungkin Indonesia bisa merdeka? Pasti mustahil.
Begitu juga kedepan. Anak-anak kita adalah generasi penerus yang akan memimpin bangsa ini kedepan. Coba bayangkan jika para pemimpin bangsa kedepan tidak memiliki jiwa pejuang yang mau berkorban untuk orang lain. Bagaimana jadinya nanti….
Seandainya ia jadi presiden, presiden itu hanya memikirkan dirinya sendiri, memirkan kesenganya sendiri, bagaimana jadinya
Seandainya ia jadi gubernur, ia hanya memikirkan dirinya sendiri, kelompknya sendiri, handai taulannya sendiri. Bagaimana jadinya?
Seandainya ia jadi bupati, RT atau RW ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Tentu ia hanya akan memperkaya dirinya sendiri, semua kebijakan-kebijakan hanya untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya, kekuasannya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan golonganya. Sungguh celaka…..
Ibu Bapak dan saudara semua yang kami mulyakan….
Mudah-mudahan kita bisa memiliki generasi seperti Kartini. Generasi sejati yang harum namanya. Yang memiliki cita-cita sebagai pejuang, mau berkorban untuk bansga ini.
Inilah spirit Kartini yang harus kita ambil. Amin. Semoga Alloh yang Maha Berkat, Maha Rohmat Memberkati, Merohmati semua ini. Amin
Wassalamu’alikum Wr.Wr.
Salam Sejahtera, Namo Budhaya, Om Swasti Astu, Rahayu….




