KEDIRI — Suasana berbeda tampak di Situs Persada Sukarno Ndalem Pojok ketika ratusan pelajar menyusuri setiap sudut rumah bersejarah yang diyakini menjadi tempat transformasi nama Koesno menjadi Soekarno. Melalui program wisata edukasi bertajuk “Detektif Jati Diri Bangsa”, para siswa tidak hanya diajak mengenal sejarah, tetapi juga diajak memahami nilai perjuangan, karakter kepemimpinan, dan semangat kebangsaan secara lebih mendalam.
Sebanyak 100 pelajar dari SMPN 1 Pagu dan SMPN 1 Kayen Kidul mengikuti kegiatan edukatif yang berlangsung di kawasan bersejarah Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri tersebut. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan interaktif berbasis pengalaman langsung (experiential learning), sehingga para peserta tidak sekadar menerima penjelasan teoritis, melainkan mengalami sendiri atmosfer sejarah di lokasi yang menjadi bagian penting perjalanan hidup Bung Karno.
Dalam kegiatan ini, para siswa diajak menelusuri ruang-ruang bersejarah, mendengarkan kisah masa kecil Bung Karno, memahami filosofi perubahan nama dari Koesno menjadi Soekarno, hingga melakukan refleksi tentang pentingnya karakter dan jati diri bangsa bagi generasi muda Indonesia.
Pendampingan kegiatan dilakukan oleh personel Polres Kediri melalui Sat Samapta bersama Polsek Wates guna memastikan kegiatan berjalan aman, tertib, dan edukatif.
Kapolres Kediri AKBP Bramastyo Priaji, S.H., S.I.K., M.Si. melalui Kasat Samapta AKP I Nyoman Sugita, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa pengenalan sejarah kepada generasi muda memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kebangsaan dan karakter pelajar.
“Pengenalan sejarah di Situs Ndalem Pojok ini penting agar pelajar memahami nilai perjuangan dan jati diri bangsa sejak dini. Harapannya, mereka tidak hanya mengenal tokoh besar seperti Soekarno, tetapi juga mampu meneladani semangat kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar AKP I Nyoman Sugita.
Menurutnya, keterlibatan Kepolisian dalam kegiatan edukatif menjadi bagian dari pendekatan humanis Polri kepada dunia pendidikan sekaligus bentuk dukungan terhadap penguatan karakter generasi muda.
Selama kegiatan berlangsung, para pelajar tampak antusias mengikuti setiap sesi. Mereka aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, hingga melakukan pengamatan langsung terhadap situs sejarah yang menjadi salah satu “hulu sejarah” perjalanan Bung Karno.
Program wisata edukasi ini sekaligus memperkuat sinergi antara dunia pendidikan, Kepolisian, pengelola situs sejarah, dan masyarakat dalam membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran sejarah, karakter kebangsaan, dan kecintaan terhadap tanah air.
Bagi banyak peserta, kunjungan ke Ndalem Pojok bukan sekadar wisata sejarah biasa. Tempat ini menjadi ruang pembelajaran hidup tentang bagaimana seorang anak bangsa ditempa oleh lingkungan, nilai, dan perjuangan hingga kelak dikenal dunia sebagai Proklamator Republik Indonesia.
Di tengah derasnya arus digital dan perubahan zaman, kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, melainkan untuk dihidupkan kembali sebagai sumber inspirasi dalam membangun masa depan bangsa.* Surya



