Lebih tepat jika disebut lahirnya istilah Pancasila.
Artikel ditulis bukan untuk mengurangi arti penting Bung Karno dalam sejarah sebagai perumus dasar negara Indonesia. Justru untuk menunjukkan jiwa besar Sang Proklamator.
Umumnya dimana-mana orang menyebut 01 Juni sebagai Hari Lahirnya Pancasila, kita patut menghormati karena pendapat itu memang ada sumber bukunya.
Ada sebuah buku kecil yang diterbitkan oleh Penerbit DUA-R jl. Pejagalan 50 Bandung. Tanpa menyebutkan tanggal dan tahun terbitnya. Buku diberi judul “Lahirnya Pancasila”
Buku ini diberi pengantar oleh Departemen Penerangan Republik Indonesia dan Dr.K.R.T. Radjiman Widiodiningrat.
Dalam pengantarnya Departemen Penerangan, menyebutkan diantaranya demikian; “Pidato Bung Karno tersebut kemudian dinamakan “Lahirnya Pancasila”.
Hal senada juga disampaikan dalam pengantar Dr. K.R.T. Radjiman Widiodiningrat yang diberi tanggal 1 Juli 1947 di halaman 8 diantaranya menyebutkan demikian: “Oleh karena itu, sungguh menggembirakan sekali maksud penerbit, untuk mencetak pidato Bung Karno ini, yang berisi “Lahirnya Pancasila” dalam sebuah buku kecil.
Antara lain lagi beliau berkata: “Lahirnya Pancasila ini adalah buah stenografis verslag dari pidato Bung Karno yang diucapkan dengan tidak terlulis dalam sidang yang pertama pada tanggal 1 Juni 1945.
Maka dari penerbitan buku yang diberi judul “Lahirnya Pancasila” itulah kemudian banyak orang berpendapat bahwa tanggal 01 Juni 1945 adalah tanggal Lahirnya Pancasila.
Tapi dalam pidatonya sendiri, Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 itu tidak ada menyebut Lahirnya Pancasila. Diantaranya pidatonya beliau menyebutkan demikian: “Namanya bukan Pancadarma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa. ..Namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar, di diatas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.”
Mencermati pidato Bung Karno pada 01 Juni ini maka akan lebih tepat bila disebut bahwa 01 Juni 1945 adalah lahirnya “Istilah Pancasila” bukan lahirnya “Pancasila”.
Anda setuju? Bersambung……





