KEDIRI — Sebagai langkah nyata pencegahan dini terhadap maraknya kenakalan remaja, aksi tawuran antar-pelajar, hingga dampak negatif kecanduan gadget, Perkumpulan Instruktur Penggiat Jati Diri Bangsa Indonesia (PIPJATBANG) berkolaborasi dengan Polres Kediri dan Pengelola Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok menggelar pilot project pendidikan karakter bertajuk “Detektif Jati Diri Bangsa”.
Program pencegahan dini berbasis rekonstruksi sejarah dan olah rasa kilat berdurasi 2 jam ini dilaksanakan dalam rentang waktu bulan Juni hingga Juli 2026. Program ini terbukti efektif dan telah berhasil membina sekitar dari 1.900 siswa SMP/MTs yang tersebar di 19 kecamatan se-Kabupaten Kediri.
Sekretaris Jenderal PIPJATBANG sekaligus Pengelola Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, R.M. Kushartono, S.M., menyampaikan bahwa strategi pencegahan dini jauh lebih efektif dan bermartabat dibandingkan penanganan setelah terjadi pelanggaran hukum oleh remaja.
“Program ‘Detektif Jati Diri’ ini dirancang sebagai langkah pencegahan dini agar anak-anak kita tidak terjerumus pada kenakalan remaja dan penurunan moral. Mereka tidak kita ceramahi dengan teori kaku, melainkan diajak meneliti dan meneladani rekam jejak Bung Karno kecil di Situs Ndalem Pojok. Dalam 2 jam, kita sentuh emosi dan kesadaran batin mereka agar paham jati diri, serta memiliki rasa hormat yang mendalam kepada orang tua dan guru,” ujar Kushartono.
Program ini mendapatkan apresiasi serta pengawalan penuh dari jajaran kepolisian. Keterlibatan jajaran Polres Kediri hingga tingkat Polsek menjadi pilar penting dalam memperkuat sinergi pengasuhan serta pembinaan hukum bagi generasi muda sejak dini.
Kanit Binmas Polsek Gurah Kediri, Ibnu Prastana, memberikan apresiasi tinggi terhadap terobosan metode pembinaan karakter di Situs Ndalem Pojok ini. Menurutnya, pendekatan ini sangat sejalan dengan program pembinaan siswa yang sedang dijalankan oleh kepolisian setempat.
“Alhamdulillah kegiatan ini sangat luar biasa. Kebetulan kami dari Polsek Gurah punya program PPS (Polisi Pengasuh Siswa), di mana kedekatan kami sebagai polisi dengan anak-anak sekolah ini sangat dibutuhkan sekali. Apalagi dengan sistem seperti ini. Menjadikan motivasi kami untuk generasi anak-anak yang akan datang semoga semakin tidak melupakan sejarah,” ungkap Ibnu Prastana.
Rangkaian kegiatan “Detektif Jati Diri” ini melintasi 4 titik rekonstruksi karakter di Situs Ndalem Pojok, mulai dari penguatan daya tahan mental (resiliensi), melatih keberanian menyuarakan cita-cita, hingga momen puncak refleksi batin Birrul Walidain (bakti orang tua) di Kamar Perubahan Nama Soekarno.
Kushartono menambahkan, tingkat keberhasilan pilot project yang berlangsung sepanjang Juni–Juli 2026 ini mencapai 100 percent dengan seluruh gelombang kegiatan berjalan aman, tertib, dan kondusif. Evaluasi pasca-kegiatan menunjukkan adanya perubahan sikap signifikan pada peserta, terutama meningkatnya rasa empati serta kesadaran membatasi penggunaan ponsel.
“Capaian 1.900 siswa dari 19 kecamatan ini membuktikan bahwa pencegahan dini melalui kolaborasi gerakan kebangsaan, kepolisian, dan situs sejarah sangat ampuh. Kami berharap Best Practice dari Kediri ini dapat terus meluas dan diapresiasi hingga tingkat nasional,” pungkasnya.* Salam.