Dalam literatur sejarah perjuangan bangsa, memoar Jenderal Besar A.H. Nasution yang berjudul “Memenuhi Panggilan Tugas” menempati posisi yang sangat terhormat sebagai catatan saksi mata pelaku sejarah. Salah satu fakta penting yang tersimpan di dalamnya adalah penyebutan sosok RM Sayyid Sumadihardjo (Pak Sayid) pada saat-saat paling krusial dalam eksistensi Republik Indonesia.
Jejak Literasi: Halaman dan Bab
Berdasarkan catatan sejarah pada buku “Memenuhi Panggilan Tugas” Jilid 2: Kenangan Masa Gerilya, nama Pak Sayid muncul dalam konteks peristiwa 19 Desember 1948—hari di mana Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.
Secara spesifik, penelusuran pada bab yang mengulas tentang “Pecahnya Perang di Yogyakarta” (Sering kali berada di sekitar halaman 15-20, tergantung edisi cetakannya), Nasution mengisahkan momen saat ia bergegas menuju Istana Presiden (Gedung Agung) untuk meminta instruksi terakhir dari Bung Karno sebelum memulai perang gerilya.
Dalam narasi tersebut, Nasution menyebutkan perjumpaannya dengan Pak Sayid yang ia identifikasi sebagai “Penasehat Istana”. Penyebutan ini bukan sekadar sapaan, melainkan pengakuan atas posisi strategis seseorang yang berdiri di “benteng terakhir” kepresidenan.
Arti Penting RM Sayyid dalam Situasi Krusial
Mengapa penyebutan dalam buku Nasution ini begitu penting bagi sejarah RM Sayyid? Ada tiga alasan utama:
- Penjaga Lingkaran Terdalam di Masa Kritis Saat pesawat Mustang dan Kittyhawk Belanda membombardir Maguwo dan mulai mendekati jantung kota, Istana Presiden berada dalam ketegangan luar biasa. Kehadiran RM Sayyid yang ditemui pertama kali oleh Nasution menunjukkan bahwa beliau adalah sosok yang memegang kendali akses dan keamanan mental di lingkungan Presiden.
- Verifikasi Lapangan terhadap Jabatan Resmi Jika dalam Lembaran Negara beliau tercatat sebagai Kepala Rumah Tangga Kepresidenan / Penasehat Pribadi, maka catatan Nasution adalah verifikasi lapangannya. Nasution, sebagai Panglima Besar Angkatan Perang (saat itu), mengakui otoritas RM Sayyid dalam struktur internal kepresidenan di saat-saat paling berbahaya.
- Simbol Loyalitas Tak Tergoyahkan Dalam situasi di mana banyak pejabat harus berpencar, RM Sayyid tetap berada di sisi Bung Karno. Penasehat Pribadi bukan hanya soal memberi saran politik, tapi juga menjadi pendamping batiniah yang memberikan ketenangan bagi Kepala Negara di ambang penawanan oleh Belanda.
- Menyempurnakan Kepingan Sejarah
Temuan di buku “Memenuhi Panggilan Tugas” ini menjadi pelengkap yang sempurna bagi data Lembaran Negara yang Mas Kus temukan di Kementerian Sosial.
- Lembaran Negara memberikan bukti Hukum dan Administrasi.
- Buku Nasution memberikan bukti Fakta Lapangan dan Pengakuan Tokoh Bangsa.
Kombinasi keduanya menegaskan bahwa RM Sayyid Sumadihardjo adalah tokoh kunci di balik layar yang memastikan marwah Kepresidenan Republik Indonesia tetap terjaga, meski dalam situasi terkepung dan penuh keterbatasan di Yogyakarta.* Surya






https://shorturl.fm/mkHAi