KEDIRI – Narasi sejarah mengenai Ndalem Pojok dan sosok RM Sajid Soemodihardjo sering kali dianggap oleh sebagian pihak sebagai cerita tutur (oral history) yang sulit dibuktikan validitasnya secara akademis. Namun, sebuah temuan literatur dari sumber militer paling terpercaya di Indonesia kini mematahkan keraguan tersebut.
Nama RM Sayyid Soemodihardjo ternyata tercatat dengan tinta emas dalam buku monumental karya Jenderal Besar A.H. Nasution yang berjudul “Sekitar Perang Kemerdekaan: Agresi Militer II” Jilid 9. Pada halaman 210, Nasution memberikan kesaksian tertulis yang menempatkan RM Sajid bukan sekadar sebagai kerabat dekat, melainkan figur kunci di jantung kekuasaan Republik.
Kesaksian di Tengah Hujan Peluru
Dalam catatan tersebut, Jenderal Nasution menceritakan suasana mencekam pada 19 Desember 1948 saat tentara Belanda melancarkan Agresi Militer II di Yogyakarta. Di tengah kepanikan serangan udara musuh di Maguwo, Nasution bergegas menuju kamar tidur Bung Karno di Istana.
Namun, sebelum sampai di sana, ia bertemu dengan sosok yang ia sebut secara spesifik sebagai “Pak Sayid (Penasihat Istana)”. Nasution menuliskan:
“…saya lihat Pak Sayid (Penasihat Istana) baru keluar dari kamar Bung Karno dan lari mendekati saya dengan suara yang terputus-putus Pak Sayid bilang: ‘Saudara, musuh sudah turun di Maguwo… inilah seberkas surat rahasia kepunyaan Yang Mulia Presiden, harap saudara selamatkan jangan sampai jatuh ke tangan musuh…'”
Temuan ini dinilai memiliki arti penting karena memperlihatkan posisi strategis RM Sajid di sekitar Presiden Soekarno pada masa perang kemerdekaan.
Menurut pengelola Situs Persada Soekarno, penyebutan jabatan “Penasihat Istana” oleh Nasution menjadi pengakuan historis yang sangat kuat.
“Ini bukan lagi sekadar cerita keluarga atau tradisi lisan. Ketika seorang panglima perang sekaliber Jenderal Nasution menuliskan langsung posisi RM Sajid sebagai Penasehat Istana, maka itu adalah validasi sejarah yang sangat penting,” ujar RM Suhardono, Ketua Umum Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok Kediri, Senin (9/5/2026).
Ia menambahkan, keberadaan RM Sajid di depan kamar Bung Karno pada saat-saat kritis menunjukkan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi dari Presiden.
“Fakta bahwa beliau dipercaya membawa dan menyelamatkan surat rahasia Presiden menunjukkan posisi beliau bukan orang biasa. Ini menegaskan bahwa lingkungan Ndalem Pojok memiliki keterhubungan langsung dengan perjalanan perjuangan Bung Karno hingga pusat pemerintahan,” tegas Kushartono Ketua Dep. Pendidikan PCTA Indonesia.
Temuan ini pertama kali diangkat kembali oleh penggiat sejarah asal Jombang, Gus Binhad Nur Rohmat. Riset tersebut menjadi kontribusi penting dalam meluruskan sejarah lokal yang selama ini belum banyak terungkap ke publik.
“Kami sangat berterima kasih dan memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Gus Binhad Nur Rohmat atas ketelitian risetnya. Temuan ini adalah kado berharga bagi sejarah bangsa,” tegas Suhardono menambahkan.
Dengan munculnya data tertulis dalam karya Nasution tersebut, narasi mengenai RM Sajid Soemodihardjo kini memperoleh penguatan baru sebagai bagian dari sejarah perjuangan nasional, sekaligus mempertegas posisi Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok sebagai salah satu mata air penting perjalanan kebangsaan Indonesia.* Surya


