Sebuah konsep wisata edukatif yang unik tengah dikembangkan di Kabupaten Kediri. Bertempat di Situs Ndalem Pojok Persada Sukarno, Desa Pojok, Kecamatan Wates, hadir program bertajuk “Wisata Bisu: Transformasi Jiwa Kusno Menjadi Soekarno”.
Wisata ini merupakan pengembangan dari Pilot Project Bimbingan dan Pelatihan (BINLAT) Laboratorium Pendidikan Karakter Jati Diri Bangsa, yang sebelumnya dilaksanakan dalam format pelatihan satu hari penuh. Melalui Wisata Bisu, pengalaman pembelajaran tersebut dirangkum dalam paket singkat berdurasi sekitar dua jam.
Ketua Umum Situs Ndalem Pojok Persada Sukarno Kediri, R.M. Suhardono, S.E., menjelaskan bahwa konsep ini dirancang agar lebih mudah diakses oleh masyarakat luas, khususnya pelajar.
“Kami mencoba menghadirkan pengalaman yang lebih ringkas namun tetap bermakna. Dalam waktu sekitar dua jam, peserta diajak merasakan suasana situs secara lebih hening dan reflektif,” ujarnya, Kamis (5/02/2026).
Wisata Bisu dikemas dengan pendekatan experiential learning, di mana peserta tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga diajak mengalami langsung suasana dan nilai-nilai yang ada di lokasi. Selama kegiatan berlangsung, peserta diajak melalui tiga tahapan utama.
Tahap pertama adalah prosesi hening (wisata bisu), yang bertujuan melatih adab, ketenangan, dan kepekaan batin. Tahap kedua berupa storytelling kontekstual, yang mengajak peserta memahami perjalanan hidup dan semangat perjuangan Bung Karno di tempat yang memiliki nilai sejarah. Tahap ketiga adalah internalisasi jati diri, yakni refleksi untuk menanamkan nilai-nilai karakter kebangsaan secara personal.
Salah satu peserta, Faridatul Kholidah, siswi SMA asal Jombang, mengaku mendapatkan pengalaman berbeda meskipun sebelumnya sudah beberapa kali berkunjung ke Ndalem Pojok.
“Saya sudah sering ke sini, tapi mengikuti wisata bisu rasanya berbeda. Saya jadi lebih merasakan suasana dan maknanya. Jujur, ini di luar bayangan saya,” tuturnya.
Kepala Program Pekat Wisata Bisu menjelaskan bahwa konsep keheningan sebenarnya bukan hal baru dalam budaya Nusantara, namun pendekatan yang digunakan di sini lebih diarahkan pada edukasi karakter.
“Memang ada tradisi “Tapa Bisu” seperti Mubeng Beteng di Yogyakarta saat 1 Suro, namun itu adalah ritual adat/keagamaan. Ada juga “Retreat Sunyi” di Bali tapi sifatnya adalah pemulihan diri pribadi kejiwaan dan spiritualitas umum, bukan penguatan Karakter Kebangsaan, bukan sebuah Paket Wisata Edukasi yang terstruktur untuk siswa sekolah,” papar Kushatono, S.M.
Menurutnya, keheningan justru menjadi ruang belajar yang efektif di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan bising.
Bisu bukan berarti kosong, dalam keheningan 2 jam, siswa dipandu melalui teknik Neuro-Pedagogi dan Metode Rasa untuk mengistirahatkan logika dan menyalakan rasa. “Di sinilah jiwa mereka terbuka. Saat mulut terkunci, telinga jiwa mulai bekerja menyerap nilai-nilai luhur yang ada di Ndalem Pojok,” tambah Pria yang juga Ketua Departemen Pendidikan DPP PCTA Indonesia ini.
Melalui Wisata Bisu, Situs Ndalem Pojok Persada Sukarno Kediri berharap dapat menghadirkan alternatif wisata edukatif yang menenangkan sekaligus bermakna, sebagai ruang belajar sejarah, karakter, dan jati diri bangsa dengan cara yang sederhana dan membumi.
Dunia hari ini terlalu bising, membuat manusia kehilangan kemampuan untuk mendengar suara hati dan jati diri. Situs Ndalem Pojok Persada Sukarno Kediri menghadirkan sebuah inovasi wisata edukasi yang manarik. Kami percaya bahwa anak yang mampu mendengar dalam keheningan adalah anak yang akan mampu memimpin dalam keramaian,” pungkas Kus.* salam





