• Beranda
  • Jati Diri
    • Pengenalan Ndalem Pojok
    • Arti Penting
    • Sejarah itu Pendidikan
  • Situs
    • Kamar Bayi Koesno
    • Kamar Presiden
    • Kamar Masa Muda Soekarno
    • Kopyah Miring
    • Pintu Soekarno
    • Pohon Kantil
    • Pohon Kepuh
  • Kegiatan
    • Mocopatan
    • Hari Hari Besar Nasional
    • Seni Keroncong
    • Seni Tari
    • Seni Karawitan
    • Belajar Sinden
    • Belajar Gamelan
    • Belajar Tari
    • Belajar Teater
    • Upacara 17
    • Upacara 28
    • Sarasehan
    • Santunan
  • Artikel
  • Berita
  • Galeri
  • Login
Situs Bung Karno | Sumunaring Ndalem Pojok
  • Beranda
  • Jati Diri
    • Pengenalan Ndalem Pojok
    • Arti Penting
    • Sejarah itu Pendidikan
  • Situs
    • Kamar Bayi Koesno
    • Kamar Presiden
    • Kamar Masa Muda Soekarno
    • Kopyah Miring
    • Pintu Soekarno
    • Pohon Kantil
    • Pohon Kepuh
  • Kegiatan
    • Mocopatan
    • Hari Hari Besar Nasional
    • Seni Keroncong
    • Seni Tari
    • Seni Karawitan
    • Belajar Sinden
    • Belajar Gamelan
    • Belajar Tari
    • Belajar Teater
    • Upacara 17
    • Upacara 28
    • Sarasehan
    • Santunan
  • Artikel
  • Berita
  • Galeri
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Jati Diri
    • Pengenalan Ndalem Pojok
    • Arti Penting
    • Sejarah itu Pendidikan
  • Situs
    • Kamar Bayi Koesno
    • Kamar Presiden
    • Kamar Masa Muda Soekarno
    • Kopyah Miring
    • Pintu Soekarno
    • Pohon Kantil
    • Pohon Kepuh
  • Kegiatan
    • Mocopatan
    • Hari Hari Besar Nasional
    • Seni Keroncong
    • Seni Tari
    • Seni Karawitan
    • Belajar Sinden
    • Belajar Gamelan
    • Belajar Tari
    • Belajar Teater
    • Upacara 17
    • Upacara 28
    • Sarasehan
    • Santunan
  • Artikel
  • Berita
  • Galeri
No Result
View All Result
Situs Bung Karno
No Result
View All Result
Beranda Berita

Kesamaan Bung Karno dengan Diponegoro Menurut Peter Carey

Senin, 21 September 2015
| Waktu baca 2 menit
A A
Kesamaan Bung Karno dengan Diponegoro Menurut Peter Carey

TopikSelaras

Jenderal A.H. Nasution Menjadi Saksi Tertulis Posisi RM Sajid Soemodihardjo sebagai Penasehat Istana

Jenderal A.H. Nasution Menjadi Saksi Tertulis Posisi RM Sajid Soemodihardjo sebagai Penasehat Istana

Sabtu, 23 Mei 2026
Ratusan Siswa SMP Ikuti Program “Detektif Jati Diri” di Situs Persada Soekarno Kediri

Ratusan Siswa SMP Ikuti Program “Detektif Jati Diri” di Situs Persada Soekarno Kediri

Kamis, 21 Mei 2026

Satu Islam, Kediri – Sejarawan dari dari Oxford University Inggris, Prof Peter Brian Ramsey Carey menggelar diskusi ‘Bung Karno dan Diponegoro Dalam Satu Perbandingan’ di rumah masa kecil Bung Karno (BK) atau dikenal dengan Ndalem Pojok di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Jumat 4 September 2015 malam.

Prof Peter Carey merupakan salah satu peneliti sejarah Perang Diponegoro. Guru besar itu sudah menghabiskan waktunya selama 40 tahun untuk melakukan penelitian Di hadapan aktivis, budayawan, seniman dan beberapa elemen masyarakat Kediri, Peter Carey mengungkap kemiripan dua tokoh besar yang dimiliki Indonesia dari nasib, takdir, dan perjuangan. (Baca: 40 Tahun Peter Carey Meneliti Sejarah Diponegoro)

Keduanya, menurut Carey sama-sama pernah ditangkap pihak lawan. Bung Karno pernah ditangkap Belanda di Maguwo Yogyakarta pada Agresi Militer Belanda II atas perintah Meijer yang kawatnya dikirimkan kepada Van Langen, saat Van Langen di Banaran sebelum masuk Yogyakarta.

“Atas ditangkapnya Soekarno ini, pihak Amerika memberikan kehormatan kepada Belanda. Amerika mengancam jika tak dapat menangkap Soekarno, maka Belanda tak mendapat dana dari Washington,” kata penulis Takdir: Kehidupan Pangeran Diponegoro dari Yogyakarta (2014).

Sedangkan Diponegoro ditangkap Belanda melalui suatu permainan licik. Diponegoro ditangkap ketika menemui Jendral De Kock di Magelang kemudian diasingkan ke Makassar. Pangeran Diponegoro wafat pada tanggal 8 Januari 1855 dan dimakamkan di Makassar, Sulawesi Selatan.

Kedua tokoh besar ini menurut Carey, memiliki kemampuan orasi yang mengesankan dan memiliki daya tarik mempesona bagi lawan jenis. Keduanya juga sama-sama mencintai alam.

Keduanya pernah memimpikan terwujudnya keadilan sosial bagi bangsanya serta mampu menciptakan persatuan dari pemahaman tentang perwujudan sinkretisme.

Lebih lanjut Carey memaparkan, Bung Karno dan Diponegoro merupakan pribadi yang blak-blakan. “Diponegoro menampar Patih Danurejo yang berpihak ke Belanda, Sedangkan Bung Karno pernah mengusulan pemindahan markas PBB dari New York ke Jenewa” ujar Carey.

Carey lahir di Rangoon, Myanmar, pada 30 April 1948 ini menyampaikan, kedua tokoh besar ini hidup di masa revolusi. Diponegoro hidup di masa kolonialisme Eropa saat revolusi industri di Prancis dan Inggris sedang berkembang. (Baca: Tongkat Pusaka Diponegoro Dikembalikan ke Tanah Air)

“Bung Karno hidup di masa Perang Dunia I dan II,” ujar sejarawan yang pernah di anugerahi gelar Sanghyang Kamahayanikan oleh Borobudur Writers and Cultural Festival (BWFC) tahun 2014 ini.

Upaya politik kedua tokoh ini sama-sama ditolak pihak lawan yang akibatnya sejarah keduanya dituliskan oleh pihak yang menang.

Pribadi Diponegoro, menurut Carey, seorang yang dikagumi Soekarno dan menginspirasi perjuangannya. Pada masa pendudukan Jepang antara 1942-1945, Bung Karno pernah meminta M. Yamin untuk membuat pamflet tentang perjuangan Diponegoro untuk mengobarkan semangat perjuangan bangsa Indonesia.

Menurut Dian Hadiyuwono dari keluarga Ndalem Pojok, Inspirasi sosok Diponegoro bagi Soekarno diperoleh melalui membaca buku tentang sang pangeran yang ditulis dengan tulisan aksara Jawa oleh keluarga Ndalem Pojok. Buku itu kini disimpan keluarga ndalem.

“Bung Karno sangat menyukai sejarah perjuangan dan tokoh-tokoh pejuang, salah satunya Pangeran Diponegoro,” kata Dian kepada Satu Islam

Ayah angkat Soekarno yang mengasuh saat usia 2-5 tahun adalah RMP Soemohatmodjo. Leluhur RMP Soemohatmodjo merupakan sisa-sisa laskar pasukan Pangeran Diponegoro. Keluarga Ndalem Pojok, tempat masa kecil Bung Karno diasuh. Berdasarkan silsilah, RMP Soemohatmodjo keturunan dari patih ndalem Sinuwun Mangkunegaran ke IX. (Baca: Ndalem Pojok: Saksi Sejarah Masa Kecil Bung Karno)

      
Tags: 17 agustus 194518 agustus 1945bung karnoindonesiakebangsaankedirikemerdekaan bangsa indonesiakemerdekaan indonesiakemerdekaan republik indonesiakoesnomasa kecil bung karnonasionalismeproklamasiproklamatorrumah bung karnorumah ndalem pojoksitus bung karnosoekarnosukarnowates
Artikel berikutnya
Menengok Sekolah Kebangsaan di Situs Bung Karno

Menengok Sekolah Kebangsaan di Situs Bung Karno

Sejarawan Inggris Kunjungi Ndalem Pojok

Profesor Oxford Ungkap Persamaan Soekarno dengan Diponegoro

Upacara 28

Antusias Ratusan Siswa SMP Surabaya Belajar Jadi Soekarno

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs Bung Karno

© 2022 Situs Bung Karno - Sumunaring Ndalem Pojok - Pancasila Sudah Final.

Navigasi Situs

  • Ini Kami
  • Kontak
  • id ID
    • en EN
    • id ID

Ikuti Kami

  • Beranda
  • Jati Diri
    • Pengenalan Ndalem Pojok
    • Arti Penting
    • Sejarah itu Pendidikan
  • Situs
    • Kamar Bayi Koesno
    • Kamar Presiden
    • Kamar Masa Muda Soekarno
    • Kopyah Miring
    • Pintu Soekarno
    • Pohon Kantil
    • Pohon Kepuh
  • Kegiatan
    • Mocopatan
    • Hari Hari Besar Nasional
    • Seni Keroncong
    • Seni Tari
    • Seni Karawitan
    • Belajar Sinden
    • Belajar Gamelan
    • Belajar Tari
    • Belajar Teater
    • Upacara 17
    • Upacara 28
    • Sarasehan
    • Santunan
  • Artikel
  • Berita
  • Galeri
  • Login

© 2022 Situs Bung Karno - Sumunaring Ndalem Pojok - Pancasila Sudah Final.

Sugeng rawuh 🙏😊

Login via Google
ATAU

Masukkan username dan password

Lupa password?

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In

Add New Playlist